Belajar Memaafkan

Tidak ada manusia yang sempurna. Itu adalah kata-kata klise yang sering kita dengar namun mengandung kebenaran. Karena itulah kita sepantasnya memaafkan orang-orang yang bersalah kepada kita.

8,180 views   |   18 shares
  • Tidak ada manusia yang sempurna. Itu adalah kata-kata klise yang sering kita dengar namun mengandung kebenaran. Karena itulah kita sepantasnya memaafkan orang-orang yang bersalah kepada kita. Mengapa kita harus belajar memaafkan? Bukan hanya untuk kepentingan orang yang bersalah kepada kita, tetapi juga untuk kepentingan diri kita sendiri. Mengapa begitu? Marilah kita simak beberapa alasan untuk itu.

  • Kesehatan

  • Apa hubungannya kesehatan dengan memaafkan? Orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain biasanya lebih berlapang dada dan tidak menyimpan dendam. Orang yang lapang dada biasanya bijak dan tidak mudah marah. Nah, di sinilah kuncinya. Karena tidak mudah marah, berarti tidak darah tinggi. Kita tahu darah tinggi merupakan penyebab berbagai penyakit, antara lain sakit jantung dan stroke.

  • Perasaan damai

  • Menyimpan dendam juga membuat kita tidak bisa merasa damai. Setiap kali kita mengingat orang yang bersalah itu, kita merasa kesal dan ingin marah-marah. Kita memberi maaf bukan untuk kebaikan orang yang bersalah saja namun juga demi ketenangan hati kita sendiri. Menyimpan dendam sama juga seperti mengurung diri kita dalam sel kebencian, terjebak dalam penjara atas kesalahan orang lain. Kita dapat memilih untuk tetap terkurung dalam penjara dan terus merasa sakit hati atau membebaskan diri kita dari kebencian serta melanjutkan hidup ini.

  • Jadilah kuat

  • Kata Mahatma Gandhi "Orang yang lemah tidak mampu memberi maaf." Diperlukan orang yang bermental kuat untuk menghadapi rasa sakit hati itu, memaafkan dan memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang lebih penting dalam hidupnya.

  • Bukan orang lain saja

  • Tidak saja kita perlu memaafkan orang lain, namun juga diri kita sendiri. Tidak jarang kita melakukan kesalahan yang kita sesali seumur hidup. Misalnya saja seorang ibu yang lupa mengunci pintu belakang rumahnya sehingga anaknya yang berusia dua tahun jatuh ke kolam renang dan mati tenggelam. Bila tidak ada rasa maaf untuk dirinya seumur hidup dia akan merasa terhukum. Sulit baginya untuk memusatkan perhatiannya kepada suami dan anaknya yang lain sehingga kebahagiaan keluarga itu terkubur bersama si anak.

  • Tidak berarti tetap berhubungan

  • Memaafkan tidak berarti kita tetap harus berhubungan dengan orang yang berbuat salah itu. Karena memaafkan suatu perbuatan bukanlah berarti perbuatan itu tidak salah. Kita boleh memberi maaf namun tidak harus menjaga hubungan dengan orang yang berbuat salah tadi. Mungkin lebih baik tidak melihatnya lagi sehingga mempercepat sembuhnya luka di hati. Seorang istri yang meninggalkan suaminya demi pria lain telah dimaafkan oleh mantan suaminya. Tidak berarti bahwa si mantan suami harus tetap menjaga hubungan, apalagi kalau mereka tidak memiliki anak. Lebih baik si suami tidak melihat mantan istrinya lagi dan memulai dengan kehidupan baru.

  • Advertisement
  • Tidak selalu berarti melupakan

  • Orang Barat mengatakan "forgive and forget." Namun perkataan ini tidak selalu benar. Memang kalau kita terus mengingat rasa sakit hati akibat perbuatan salah seseorang kita sulit memaafkan orang itu. Tetapi bukan berarti kita lupa begitu saja apa yang sudah diperbuatnya. Saya tidak pernah lupa bagaimana guru saya di sekolah dasar pernah memukul tangan saya dengan rotan karena lupa mengerjakan p.r. tetapi bukan berarti saya tidak memaafkan dia. Bahkan suatu hari ketika beliau bertanya siapa yang pernah dia pukul di kelas (untuk menegaskan bahwa dia jarang memukul), saya lupa angkat tangan. Hanya untuk sesaat itu, seusai kelas saya menyesal mengapa tidak angkat tangan tadi. Mungkin dalam hati kecil saya yang masih kanak-kanak saya tidak menyimpan rasa sakit hati kepadanya.

  • Menghilangkan kebahagiaan

  • Seorang wanita yang merasa sakit hati kepada ayahnya tidak mau lagi berbicara kepadanya selama bertahun-tahun. Ketika si ayah meninggal dia menangis meraung-raung menyesali kekerasan hatinya yang tidak mau memberi maaf kepada ayahnya. Nasi sudah jadi bubur. Mengapa mesti menunggu sampai saat itu buat menyadari bahwa dia sendiri bersalah karena tidak memaafkan ayahnya.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Belajar Memaafkan

Tidak ada manusia yang sempurna. Itu adalah kata-kata klise yang sering kita dengar namun mengandung kebenaran. Karena itulah kita sepantasnya memaafkan orang-orang yang bersalah kepada kita.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr