Hukuman dan Ganjaran

Menghukum dan mengganjar harus bertujuan membangun watak anak kita. Perbuatan baik diberi ganjaran agar mendorongnya untuk melanjutkan perbuatan tersebut. Sedangkan perbuatan buruk dihukum agar tidak diulang.

2,002 views   |   shares
  • Apabila kita selalu memberi hukuman untuk perbuatan dan perilaku yang tidak pernah diterima, tetapi tidak pernah memberi ganjaran untuk perbuatan dan perilaku yang dapat diterima, maka anak kita akan memiliki kesan bahwa perilaku negatif sajalah yang mendapat perhatian. Dengan demikian, dikhawatirkan anak tersebut akan tumbuh menjadi orang yang hidupnya selalu mencari kegagalan, karena tanpa disadarinya dia menanamkan kesan bahwa hanya kegagalan yang mendapatkan perhatian. Sayang sekali kalau itu yang terjadi bukan?

  • Apakah anak tersebut akan hidup 'sengsara' sewaktu dewasa? Tentu saja. Tetapi karena tanpa disadarinya bahwa dia dibesarkan untuk 'mencari kegagalan', bila dia tidak mendapatkan bimbingan yang tepat dalam perjalanan hidupnya, atau dia berhasil mencari jawaban atas kegagalannya, atau dia sudah terlanjur terjebak dalam kegagalan, maka baginya sepertinya tidak ada jalan keluar.

  • Hukuman

  • Jangan menghukum anak karena emosi

  • Orang tua adalah tetap manusia, mereka memiliki perasaan juga. Hal tersebut tidak dimengerti oleh anak yang sudah pandai berbicara seperti misalnya sudah di kelas 5 atau 6 SD. Kadang-kadang mereka mengucapkan sesuatu yang menyinggung perasaan orang tuanya. Misalnya:

  • Ibu: Kamu tidak boleh makan saus tomat sebanyak itu.

  • Anak: Terserah saya untuk mengatur hidup saya

  • Maka ibu itu pun marah-marah, karena anak yang 'lancang' mulutnya itu dikira telah kelewat batas, sehingga ibu itu mengatakan: "Kalau kamu bisa mengatur hidupmu sendiri, mengapa kamu tidak keluar dari rumah ini dan mencari nafkah sendiri?"

  • Tentu saja setelah berpikir dengan tenang, ibu tersebut tidak ingin anaknya yang baru umur 10-12 tahun itu benar-benar meninggalkan rumah orang tuanya dan mencoba hidup sendiri.

  • Jangan memberi hukuman yang tidak sanggup Anda jalankan

  • Misalnya, "Kalau kamu tetap melakukannya, maka kamu akan saya buang ke sungai atau kamu tidak dapat menonton TV selamanya". Terutama bila ancaman tersebut ditujukan untuk anak yang sudah mulai dapat berpikir, "Mana mungkin ibu saya membuang saya ke sungai?" Juga mana mungkin ibu tersebut untuk SELAMANYA mengawasi anaknya agar tidak nonton TV?

  • Jangan memberi hukuman sekadar untuk menyakitinya

  • Seperti mencambuknya dengan sabuk kulit karena jengkel atau malu. Saya kenal seorang juara tinju sewaktu saya masih remaja. Dia mendidik anaknya dengan tinjunya bila anak tersebut berbuat salah, terutama bila anaknya pulang menangis karena kalah berantem dengan teman bermainnya. Sewaktu saya dewasa, saya melihat bahwa anak yang diharapkan berperilaku 'jantan' oleh ayahnya tersebut ternyata hanya menjadi seorang pemabuk dan penjudi.

  • Advertisement
  • Jangan menghukum anak karena Anda merasa malu

  • Misalnya di sebuah pertokoan, anak Anda membuat gaduh, maka Anda takut suara gaduh tersebut akan mengganggu orang lain, dan yang terutama, sikap mental 'apa kata orang nanti kepada saya', maka Anda menghukum anak Anda. Padahal di rumah Anda membiarkan perilaku 'gaduh' tersebut berlangsung tak terkendali.

  • Jangan menghukum anak karena tidak mengerti perintah Anda

  • Suatu hari seorang anak berjalan bersama ibunya. Mereka berjalan sampai di perempatan dan berhenti untuk menyeberangi jalan yang ramai kendaraan bermotor. Anak tersebut tidak berhenti, namun langsung melangkahkan kakinya tanpa melihat ke kiri atau kanan. Tentu saja ibunya terkejut dan menarik anaknya ke tepi jalan dan mencubitnya (hukuman) dengan keras sehingga anak itu menangis. Ibunya bilang, "Jangan sembrono menyeberangi jalan yang ramai, tahu?" Anak tersebut manggut-manggut sambil menangis. Tetapi, hari berikutnya dia mengulang lagi perbuatanya. Dengan demikian, maka ibu itu menghukumnya lagi. Hal tersebut terulang beberapa kali hingga suatu hari di antara isak tangisnya, anak itu bertanya, "Apa sembrono itu, bu?"

  • Hukuman dan ganjaran hendaknya sangat berarti bagi anak kita. Bila anak berbuat baik seringkali kita hanya mengganjarnya dengan berkataan, "Bagus sekali nak." Tetapi waktu anak itu berbuat sesuatu yang tidak dapat diterima kita tidak sekadar berkata, "Saya tidak suka dengan perbuatan mu." Tetapi, juga disertai dengan hukuman, yang kebanyakan adalah berupa hukuman fisik, dicubit, dipukul dengan telapak tangan, dan paling sedikit diambilnya kebebasannya untuk sementara, seperti diminta berdiri di sudut selama 5 menit.

  • Mungkin berdiri di sudut selama 5 menit sama lemahnya seperti pujian "Bagus sekali nak." Sehingga anak tersebut tidak mendapatkan pengalaman dan pengertian yang penting tentang semua yang dilakukannya. Mungkin permintaan berdiri di sudut selama 5 menit untuk anak usia 3-4 tahun sudah terasa berat buatnya, sehingga dia menangis keras, karena itu berarti dia tidak dapat bergerak atau bermain terus. Sedangkan pujian, "Bagus sekali nak." tidak membuatnya bangga.

  • Ganjaran

  • Ganjaran terbaik yang membangun watak anak sebenarnya memberi rasa percaya dan hormat

  • Contohnya, kalau anak pergi ke pertokoan biasanya suka pergi ke bagian mainan. Sebelum pergi ke tempat mainan, anak tersebut diingatkan, "Kamu hanya melihat-lihat, tidak membeli, OK?" Tentu, dengan tanpa pikir panjang anak tersebut menganggukkan kepala. Tetapi, waktu diajak pulang setelah melihat mainan begitu banyak dan menarik, dia merengek atau kadang-kadang menangis keras-keras sengaja untuk membuat orang tuanya malu, sehingga orang tuanya menyerah. Untuk menenangkannya, cara yang baik adalah, biarkan anak itu tahu siapa di sini yang menjadi 'tuan'. Anda harus teguh, jangan malu, dan berkata, "Kalau kamu berhenti menangis, dan pulang, maka lain kali kita akan kembali melihat-lihat mainan lagi." Ini adalah ganjarannya. Kalau kita melakukan hal tersebut berulang-ulang, maka anak tersebut akan 'menurut', dan tidak akan menangis lagi sewaktu diajak pulang, karena dia 'dipercaya' dan 'dihormati'. Sebaliknya orang tua harus juga menepati janjinya.

  • Advertisement
  • Sama seperti menghukum, jangan mengganjar anak karena emosi

  • Misalnya, kalau lagi senang, biasanya kalau sedang liburan, kita suka memanjakan anak kita dengan berbagai 'hadiah' yang sebenarnya tidak dibutuhkannya. Ini akan memberinya kesan bahwa berbelanja mengikuti impuls itu tidak ada salahnya. Ingatlah bahwa kita ingin membangun wataknya, bukan merusaknya.

  • Jangan mengganjar anak kita dengan benda-benda yang tidak dibutuhkannya

  • Misalnya, kalau setiap kali anak kita melakukan sesuatu yang baik, kita sekadar memujinya, "Bagus sekali." Lama kelamaan ucapan kita tidak memiliki kekuatan yang mendorongnya melakukan perbuatan baik. Demikian pula bila setiap kali dia membantu kita mengerjakan tugas rumah, kita beri dia ice cream, lama kelamaan, ice cream tersebut tidak memiliki kekuatan motivasi baginya atau membentuk wataknya. Untuk mengetahui apa yang dibutuhkannya, sebaiknya ada komunikasi dua arah agar kita dapat menilai apa yang sangat dibutuhkannya, sehingga ganjaran yang berupa barang tersebut tidak berakhir di tumpukan barang bekas di garasi.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Hukuman dan Ganjaran

Menghukum dan mengganjar harus bertujuan membangun watak anak kita. Perbuatan baik diberi ganjaran agar mendorongnya untuk melanjutkan perbuatan tersebut. Sedangkan perbuatan buruk dihukum agar tidak diulang.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr