Bangkrut

Dalam membangun keluarga tentu saja kita tidak mengharapkan munculnya momok kebangkrutan. Oleh karena itulah artikel ini saya susun untuk menolong agar hal tersebut tidak terjadi.

5,383 views   |   3 shares
  • Berurusan dengan uang sikap kita adalah segalanya. Uang adalah sesuatu yang sudah pasti, bila sudah habis maka habislah. Bangkrut berarti semua aset yang Anda miliki termasuk uang kontan Anda tidak cukup untuk membayar utang Anda yang jatuh tempo.Tidak punya tabungan untuk keadaan darurat. Di zaman konsumerisme seperti sekarang, biasanya orang 'malas' menabung karena alasan berikut:

  • Kita mengira bahwa kita akan dapat dan mampu bekerja terus seumur hidup atau ada sumber penghasilan yang mengalir masuk terus menerus. Di samping itu bunga tabungan juga makin kecil setiap hari.

  • Tetapi, itu bukan solusi atau cara berpikir yang baik. Kita wajib menabung, betapa pun kecilnya. Biasanya 5% hingga 10% penghasilan bruto kita adalah ukuran yang baik.

  • Hidup dari utang

  • Hidup dari utang sudah pasti merupakan skenario kehancuran karena hal-hal berikut:

  • Bunga adalah sesuatu yang tidak pernah istirahat. Dia bekerja di hari Minggu, hari libur, tidak pernah tidur dan istirahat.

  • Utang bukan penghasilan. Apa yang akan terjadi kalau setiap bulan kita membuat anggaran belanja defisit? Untuk menutup defisit kita berutang.

  • Utang lewat kartu kredit: Apa yang terjadi kalau kita berutang lewat kartu kredit dan membayar cicilan minimalnya? Berapa lama utang kita akan lunas? Menurut hitung-hitungan www.bankrate.com, utang Rp5,000,000 dengan bunga 17% per tahun, dibayar Rp 816,000 per bulan, maka akan terbayar lunas dalam waktu 12 tahun, dengan syarat Anda tidak membuat utang baru.

  • Tidak punya anggaran belanja, tidak tahu masalah keuangan: Kesalahan yang sering dilakukan adalah mengira karena penghasilan kecil, maka tidak butuh anggaran belanja. Justru kebalikannya, makin kecil penghasilan Anda makin membutuhkan anggaran belanja yang baik, agar penghasilan yang kecil tersebut cukup untuk membiayai hidup selama sebulan. Usahakan agar setiap bulan selalu memiliki anggaran berimbang, artinya jangan 'besar pasak daripada tiang', jangan membelanjakan uang yang tidak Anda miliki.

  • Belanja melebihi penghasilan: Di zaman sekarang orang seringkali menggunakan kartu kredit. Kadang-kadang limit kredit sebuah kartu sama atau bahkan lebih besar daripada penghasilan kita. Ingatlah bahwa tidak semua penghasilan dari kerja Anda adalah milik Anda. Sebagian besar mungkin justru adalah milik bank KPR untuk mencicil hipotek rumah, PLN, PAM, dan rekening lainnya. Sebagian lagi adalah milik ibu dan bapak yang berjualan di pasar, karena keluarga Anda butuh belanja kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, bila kita membelanjakan uang kita seolah-olah seluruh penghasilan kita adalah milik kita, maka sudah pasti Anda akan belanja melebihi penghasilan Anda.

  • Advertisement
  • Tua

  • Lanjut usia biasanya disertai oleh berbagai penyakit degeneratif, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan jantung. Biaya perawatan penyakit tersebut tidak sedikit. Bila kita tidak siap menghadapinya, dan tidak memiliki asuransi kesehatan, dan tidak memiliki sanak keluarga yang mampu membantu, maka 'kebangkrutan' sudah di ambang pintu.

  • Apalagi bila sewaktu muda suka berganti-ganti istri, dan usia lanjut masih menanggung biaya anak-anak, karena menikah lagi di usia tua dengan gadis yang jauh lebih muda seperti gaya hidup orang kaya, maka tanpa dapat dielakan kalau tidak keluarganya berantakan, maka hidup dalam kemiskinan.

  • Bencana alam

  • Ini ada hubungannya dengan tabungan dalam keadaan darurat dan asuransi. Biasanya bencana alam ini menyangkut rumah. Untuk ini Anda tidak memiliki pilihan, kecuali membeli polis asuransi. Kalau tidak demikian, maka begitu rumah Anda musnah maka Anda bisa bangkrut dalam sekejap mata. Tetapi juga harus hati-hati dengan asuransi, karena asuransi bukan badan sosial, tetapi komersial, jadi perhatikan klausul yang ada di dalamnya sehingga kerugian Anda dapat diliput.

  • Sakit

  • Orang sakit di zaman modern ini mahal. Kalau seseorang yang dikasihi sedang menderita suatu penyakit yang sulit disembuhkan dan memakan biaya mahal, dan dalam jangka waktu yang lama, maka harus hati-hati, jangan terlalu berambisi. Tidak semua penyakit dapat disembuhkan, jadi kalau sudah terminal, sebaiknya bukan terus-menerus diupayakan agar sembuh, tetapi usahakan agar si penderita tidak menderita terlalu banyak sebelum menemui ajalnya. Kalau kita terlalu berambisi, kadang-kadang kita terjerat oleh 'penipu' yang pura-pura bisa menyembuhkan penyakit tersebut atau memiliki 'obat dewa' yang dapat menyembuhkan segala penyakit. Tentu saja imbalan untuk itu tidak murah, dan kadang-kadang kita kehilangan segala milik kita karenanya. Memang kita tidak tega melihat orang yang kita kasihi menderita demikian, namun, berurusan dengan uang yang tidak kenal ampun, sikap kita pun harus disesuaikan.

  • Penipuan

  • Ini sering terjadi karena iming-iming keuntungan yang dijanjikan, maka kita hanyut ke dalam akal-akalan orang jahat. Ingatlah 'pelanduk melupakan jerat tetapi jerat tidak pernah melupakan pelanduk', kira-kira demikian bunyi pepatah kuno. Biasanya di awal kerja sama atau penanaman modal, semua berjalan sangat menjanjikan, sampai di tengah jalan, maka ada saja yang terjadi, entah ada stok barang yang hilang dalam jumlah besar, atau di akhir perjalanan, waktu penjualan hasil panen terjadi maka semuanya menguap, termasuk 'orang baik' tadi. Kalau sebagian besar usaha tersebut dibangun dari kredit bank atas nama Anda, maka Anda akan bertanggung jawab dan kebangkrutan biasanya menyusul.

  • Advertisement
  • Tidak tahu apa yang harus dikerjakan, dan tidak memahami bidang usaha yang dilakukan. Ini mirip dengan penipuan. Mengira dapat berhasil dalam bidang yang akan dikerjakan, tetapi setelah mencobanya di tengah jalan ternyata mengalami kendala, tiba-tiba muncul 'orang baik' yang mengaku sanggup membantu. Mungkin dia memang mampu, tetapi tidak disertai oleh iktikad baik. Bila kita menyerahkan usahanya kepada orang itu, maka 'amin'lah seluruh modalnya dan kemungkinan menyeret Anda ke dalam hutang yang tak terbayar.

  • Mendengarkan teman dalam mengambil keputusan

  • Orang ngomong itu gampang, bagai 'lidah tak bertulang', mereka belum tentu pernah melakukannya. Ada sementara teman yang suka membual seolah-olah punya pengetahuan banyak tentang suatu usaha yang katanya mendatangkan keuntungan besar. Mungkin dia tidak beritikad buruk, memang dia suka membual. Anda mendengarkannya dan mencoba menjalankannya. Ternyata usaha tersebut tidak seperti yang Anda duga dan jauh dari apa yang dibicarakan oleh teman Anda itu. Karena sudah terjun dan terbelit oleh hutang piutang, maka mau tidak mau melanjutkannya. Berhenti mungkin berarti bangkrut, maka Anda dengan tidak bahagia meneruskan usaha yang tidak terlihat titik cerahnya tersebut.

  • Itulah beberapa hal penyebab kebangkrutan seseorang. Untuk mengatasinya, lakukanlah kebalikannya. Demikianlah pedoman yang berhasil saya simpulkan untuk mengatasi kebangkrutan.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Bangkrut

Dalam membangun keluarga tentu saja kita tidak mengharapkan munculnya momok kebangkrutan. Oleh karena itulah artikel ini saya susun untuk menolong agar hal tersebut tidak terjadi.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr