Sikap Kita Terhadap Anak-Anak yang Cenderung Ingin Bunuh Diri

Bagi orang yang tidak sedang menghadapi jalan buntu, bunuh diri bukan merupakan solusi. Kecenderungan memilih untuk mengakhiri hidup adalah sesuatu yang serius dan dapat terjadi pada siapa pun, sehingga harus diimbangi dengan kesungguhan yang sama.

3,583 views   |   6 shares
  • Ketika bangun pagi tanggal 12 Agustus 2014 kita semua dikejutkan oleh berita kematian Robin Williams, yang semalam dikabarkan bunuh diri. Kita semua tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang Robin Williams yang selalu membuat orang lain tertawa ternyata demikian depresi sehingga tidak menemukan jalan keluar kecuali mengakhiri hidupnya.

  • Menurut dokter Nancy Snyderman dalam Today Show (08/12/2014), almarhum Williams menderita kelainan bipolar. Disebut demikian, karena penderita memiliki dua kutub yang sangat berlawanan. Kalau sedang gembira dia menjadi positif berlebihan hingga mengambil keputusan yang kadang-kadang tidak masuk akal, misalnya, sanggup melakukan terjun bebas dari gedung tinggi, tetapi kalau sedang sedih dia dapat demikian parah hingga memiliki keinginan bunuh diri.

  • Dokter Snyderman selanjutnya mengatakan, bahwa bahkan orang Amerika yang sudah maju masih enggan membicarakan masalah penyakit mental seseorang. Seharusnya penyakit mental seseorang tersebut dibicarakan seperti kita membicarakan penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi dan lain-lainnya.

  • Obat-obatan yang merubah suasana hati (mood) seseorang biasanya menumpulkan pikiran seseorang juga sehingga penggunanya tidak merasa nyaman. Oleh sebab itu kebanyakan penderita kelainan bipolar 'mengobati' diri sendiri dengan menggunakan alkohol, atau narkoba, walaupun dalam hati kecilnya menyadari bahwa ketergantungan kepada bahan-bahan tersebut hanya untuk sementara dan menyebabkan mereka kecanduan.

  • Cukup sudah pembicaraan mengenai kelainan bipolar. Sekarang marilah kita melihat ke dunia nyata dalam keluarga kita sendiri. Dapatkah anak-anak mengalami stres? Apa gejala-gejalanya, dan bagaimana menolong mereka mengatasinya.

  • Semua stres adalah serius, jadi jangan dianggap remeh. Depresi atau stres itu adalah sama nyatanya seperti seseorang yang sedang batuk. Bila tenggorokan kita gatal, maka batuklah kita. Kita tidak mungkin menghentikan stres hanya dengan berkata, "Jangan stres" atau "Jangan sedih" dan sebagainya, sama seperti kita tidak mungkin menghentikan batuk kita dengan melarangnya.

  • Gejala-gejala anak yang depresi:

    • Mengisolasi diri atau menyendiri, seperti tidak ingin menemui siapa pun, tidak gembira lagi, apa yang biasa menarik buatnya tidak lagi memikatnya, tidak berminat melakukan yang biasanya senang dikerjakannya, tidak punya selera makan, menulis sesuatu atau menggambar sesuatu yang sama berulang-ulang, ngompol, menghisap jempol, mengulum rambut terus menerus, ngupil berlebihan, sering bermimpi buruk sehingga suka bangun di tengah malam dan menangis.

    • Uring-uringan, gampang marah, sangat sensitif, defensif, angka-angka sekolah merosot tajam, suka berkelahi, menjadi penggertak (bully).

    • Bagi anak-anak yang sudah lebih dewasa yang tahu bagaimana menyembunyikan perasaannya, seringkali justru memperlihatkan keriangan yang berlebihan (hyper). Membuat keputusan seperti tidak ada hari esok dan sebagainya.

  • Advertisement
  • Mengatasi gejala stres:

    • Ikuti langkah dasar menjadi orang tua yang baik.

    • Sering berbicara dengan anak-anak. Kalau ada komunikasi positif dalam keluarga, pasti anak tersebut belajar menjelaskan pikirannya.

    • Sediakan waktu buat mereka.

    • Beri mereka kepercayaan dan kehormatan.

    • Buat mereka merasa bahwa anak-anak penting dalam hidup Anda.

    • Berilah kesan bahwa Anda tidak akan marah bila anak Anda membicarakan masalah di sekolah dan teman-teman.

    • Cari tahu kemungkinan mereka terlalu banyak beban pelajaran atau kegiatan di dalam dan luar sekolah, seperti latihan berenang, perkumpulan sepak bola, les menyanyi, piano, ballet, dll.

    • Perlihatkan kepada anak-anak bahwa orang tua juga sekali-kali stres dan frustrasi dan putus asa dalam menghadapi suatu situasi, atau berbuat kesalahan.

    • Kalau melakukan kesalahan, tidak ada salahnya orang tua minta maaf kepada anaknya.

    • Ajarkan bahwa setiap orang harus membayar 'harga' untuk sesuatu yang diinginkannya. Bila tidak sanggup membayarnya, jangan berkeinginan seperti itu. Misalnya, untuk menjadi juara renang, seseorang mungkin harus kehilangan waktu bermain (harga yang dibayar) karena harus bersedia latihan berjam-jam di kolam renang.

    • Bila anak memiliki kesulitan melakukan sesuatu, atau kelemahan dalam bidang tertentu, maka biarlah dia tahu bahwa mereka tidak disalahkan. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Mengapa ribut dengan kekurangan bila dapat mengimbanginya dengan kelebihan.

    • Jangan membuatnya merasa bersalah. Anda tidak paham apa yang sedang dialaminya. Semua itu muncul di dalam otaknya. Seperti yang saya katakan di atas, hal tersebut sama seperti orang batuk. Apakah Anda menyalahkan orang yang batuk? Tidak! Jadi, mengapa Anda menyalahkan anak yang putus asa?

    • Jangan bergantung hanya pada obat yang berusaha merubah perilaku, yang sebenarnya hanya menumpulkan pikiran seseorang. Penderita yang menggunakan obat-obatan tersebut sebenarnya seperti lepas dari mulut harimau masuk ke dalam mulut buaya. Di samping itu, setiap obat yang diproduksi selalu memiliki efek samping negatif sehingga kadang-kadang seperti menelan lalat, kemudian harus menelan cicak untuk mengeluarkan lalat dari perutnya, kemudian menelan burung untuk mengeluarkan cicak, dan seterusnya. Dia akan menggunakan seperangkat mata rantai obat-obatan yang tidak akan berakhir.

    • Di samping obat-obatan, sebenarnya dalam tingkatan tertentu seseorang harus melewati latihan yang disebut latihan kognitif. Artinya melatih cara berpikirnya, sehingga hidupnya lebih positif. Pada tingkatan tertentu seseorang yang stres tersebut sebenarnya dipermainkan oleh pikirannya, yang kalau bukan memutarbalikan (distorsi) pikiran juga membesarkannya dan membiarkan pikiran tersebut terus menerus menghantuinya, sehingga tidak ada jalan keluar.

    • Biarkan dia menjadi seperti dirinya. Depresi seseorang dapat diperparah oleh tidak mungkinnya seseorang untuk menjadi seperti dirinya. Seperti seorang pelawak, kemana pun dia pergi, orang selalu mengharapkannya untuk melawak, tetapi kita lupa bahwa dia sebenarnya adalah manusia seperti kita semua. Sebagai manusia normal, tentu ingin hidup normal. Melawak baginya adalah 'pekerjaan'. Memang mereka memiliki kelebihan, tetapi jangan dikira mereka hanya seperti itu dan tidak memiliki kegiatan lainnya. Seperti seorang yang gemar makan nasi goreng diberi menu kesukaannya sehari tiga kali setiap hari selama setahun, maka dia akan jenuh dan akhirnya stres.

  • Advertisement
  • Jiwa manusia itu sangat rumit. Masih banyak yang belum kita pahami. Jadi, bila melihat anak kita memperlihatkan gejala stres, jangan diremehkan.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Sikap Kita Terhadap Anak-Anak yang Cenderung Ingin Bunuh Diri

Bagi orang yang tidak sedang menghadapi jalan buntu, bunuh diri bukan merupakan solusi. Kecenderungan memilih untuk mengakhiri hidup adalah sesuatu yang serius dan dapat terjadi pada siapa pun, sehingga harus diimbangi dengan kesungguhan yang sama.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr