Si Pihak Ketiga dalam Pernikahan

Jika tidak berhati-hati hal yang baik sekalipun berpotensi menjadi pihak ketiga dalam pernikahan kita. Hal-hal sederhana yang disikapi dengan tidak bijaksana bisa menjadi berbahaya.

67,851 views   |   180 shares
  • Saya pernah mendengar keluhan seorang istri yang suaminya gila mengoprek-oprek motor, sehingga setiap punya waktu luang pasti dihabiskan di bengkel bersama teman-temannya. Ada juga yang membagikan pengalamannya menghadapi suami yang gila memancing sehingga betah menghabiskan berjam-jam waktu yang harusnya untuk keluarganya untuk menunggui kailnya nyangkut di mulut seekor ikan. Sebaliknya, ada juga suami yang mengeluh karena istrinya selalu berbagi cerita apa pun dengan sahabat perempuannya termasuk masalah rumah tangga, dan tak jarang lebih mendengarkan sahabatnya dibanding dengan suaminya sendiri. Mungkin kelihatannya sepele. Tapi tanpa kita sadari kalau hal-hal yang terlihat tidak berbahaya tersebut bisa menjadi pihak ketiga yang berpotensi menghancurkan rumah tangga.

  • Pihak ketiga dalam pernikahan biasanya selalu diidentikkan dengan perselingkuhan yang sudah jelas sangat fatal akibatnya. Tapi sesungguhnya kalau kita mau peka, pihak ketiga dalam pernikahan tidaklah selalu berupa lelaki idaman lain atau pun wanita idaman lain. Hal-hal yang terlihat tidak berbahaya seperti hobi atau teman dekat jika tidak bijaksana menyikapi bisa menjadi pihak ketiga yang berakibat sama fatalnya dengan perselingkuhan. Beberapa hal di bawah adalah contoh hal-hal sederhana yang bisa mengancam pernikahan jika tidak diatur dengan bijaksana.

  • 1. Hobi

  • Tidak ada yang salah dengan memiliki hobi, pun jika hobi tersebut berbeda dengan pasangan kita. Toh setiap dari kita berhak memiliki "me time" untuk melakukan hal yang kita sukai untuk diri kita sendiri. Hobi yang positif bahkan bisa memberi dampak yang baik untuk pernikahan. Bermain musik misalnya, bayangkan betapa menyenangkannya ketika kita bisa menghibur keluarga kita dengan musik yang yang indah. Atau menjahit, hitunglah berapa uang yang bisa disimpan alih-alih untuk membayar jasa penjahit yang tidak bisa dikatakan murah atau untuk membeli baju yang lebih tidak murah lagi. Akan tetapi hati-hati, ketika hobi ini lebih menyita waktu, tenaga bahkan uang kita lebih dari keluarga kita maka itu berpotensi menjadi pihak ketiga yang menghancurkan pernikahan kita. Seperti contoh kasus teman saya dengan suami yang memiliki hobi mengoprek motornya atau suami yang gila memancing. Atau juga kasus lain di mana si istri yang tergila-gila menonton drama Korea sehingga melupakan tugas untuk melayani keluarga. Aturlah waktu kita dengan bijaksana dengan keluarga sebagai prioritas. Letakkan hobi pada tempatnya yaitu jauh di bawah kepentingan keluarga kita. Bicarakan dengan pasangan kita tentang seberapa seringnya kita bisa melakukan hobi kita. Dan jangan keberatan ketika kita sesekali diminta untuk mengorbankan waktu bagi hobi kita untuk sesuatu yang lebih penting dan mendesak. Ingat, dalam skala prioritas hobi haruslah berada jauh di bawah kebahagian dan keberhasilan keluarga.

  • Advertisement
  • 2. Pekerjaan dan karier

  • Ini adalah hal yang sebenarnya penting dalam rumah tangga tetapi paling sering menjadi penyebab kandasnya pernikahan. Siapa yang bisa menyangkal bahwa bekerja adalah asas yang penting, apalagi dalam pernikahan. Tidak heran mengapa banyak pasangan yang menunda pernikahan mereka sampai salah satu atau keduanya memiliki pekerjaan yang berpenghasilan baik. Tidak heran juga kalau salah satu pertimbangan orang tua seorang gadis dalam menerima calon menantu adalah apakah si calon menantu memiliki pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhannya dan calon istrinya nanti. Karena memang memiliki pekerjaan yang memberi penghasilan yang baik itu penting. Kita tidak bisa memungkiri banyak pernikahan yang kandas dikarenakan ekonomi yang pas-pasan atau bahkan kekurangan. Begitu juga dengan karier. Karier yang bagus akan memberikan penghasilan dan fasilitas yang bagus pula. Bahkan memberikan rasa bangga dan penghormatan. Akan tetapi saya teringat sebuah kutipan dari David O.McKay, "Tidak ada keberhasilan yang dapat menggantikan kegagalan di dalam rumah tangga." Saya sangat setuju dengan hal itu. Mungkin memang akan menyenangkan untuk mempunyai penghasilan besar sehingga memungkinkan kita membeli apa pun yang kita mau. Mungkin memang menyenangkan memiliki karier yang cemerlang, yang menuai pujian, rasa kagum dan hormat serta memberi kita jabatan yang tinggi. Akan tetapi yakinlah tanpa seseorang yang mencintai dan untuk dicintai dan keluarga untuk berbagi di mana kita akan selalu diterima seberapa pun mengesalkannya kita, memiliki pekerjaan sukses berpenghasilan besar serta karier yang cemerlang hanyalah seperti memakai perhiasan gemerlap tetapi palsu.

  • 3. Teman

  • Kita semua butuh teman bahkan mereka yang sudah menikah sekalipun. Saya setuju sekali. Karena manusia pada dasarnya adalah makluk sosial yang butuh bersosialisasi. Tidak sehat juga jika kita hanya berinteraksi melulu dengan pasangan kita atau anak- anak kita. Kita akan menjadi seperti katak dalam tempurung. Seorang ibu dengan anak-anak kecil pun sesekali membutuhkan percakapan yang lain selain dengan suami dan anak-anaknya. Para suami juga sama, sesekali mereka membutuhkan obrolan sesama lelaki. Akan tetapi berhati-hatilah. Jangan sampai teman kita menjadi pihak ketiga yang mengancam pernikahan kita. Berbahaya ketika teman kita lebih mengenal kita daripada pasangan kita. Berbahaya ketika sahabat kita mengetahui semua rahasia pernikahan kita yang seharusnya hanya milik kita dan pasangan kita. Lebih parah lagi ketika sahabat kita menjadi tempat konseling dadakan tentang masalah dalam pernikahan kita dan kemudian membuat kita menjadi lebih mendengarkan sahabat kita dibanding dengan pasangan kita. Sehingga setiap kita memiliki masalah dalam rumah tangga kita, alih-alih duduk berdua dan berbicara terbuka dengan pasangan, kita memilih untuk lari kepada sahabat kita dan mencari nasihat dari dia. Itu berbahaya. Sungguh berbahaya. Saya termasuk orang yang percaya bahwa ketika muncul masalah ataupun apa pun dalam rumah tangga, maka orang pertama yang seharusnya menjadi tempat kita berbagi adalah pasangan kita. Bukan orang lain tidak peduli sedekat apa pun kita dengan orang tersebut. Ketika kita dan pasangan kita tidak bisa menemukan jalan keluar bagi masalah kita, maka bisa kita meminta nasihat dari pihak ketiga akan tetapi pihak ketiga tersebut haruslah pihak yang netral, atau bahkan mungkin pihak yang profesional seperti penasihat perkawinan. Itu pun sangat disarankan untuk menemui pihak tersebut berdua. Ingatlah, sahabat kita bukanlah konseling perkawinan dadakan , bukan pula orang yang harus selalu tahu tentang apa yang terjadi di balik tembok rumah kita. Mungkin ketika kita masih lajang, kita nyaman untuk berbagi semua hal dan rahasia bersama sahabat kita, tetapi ingatlah, ketika kita menikah keputusan dan tindakan apa pun yang kita perbuat bukanlah hanya tentang diri kita tetapi juga tentang pasangan kita bahkan anak-anak kita. Bukan lagi melulu tentang perasaan kita ataupun kenyamanan kita tetapi juga tentang perasaan dan kenyamanan pasangan kita.

  • Advertisement
  • 4. Sosial media

  • Sosial media bisa menjadi sebuah media yang positif untuk menjaga tali silaturahmi antar kawan atau keluarga yang terpisah jarak yang jauh. Kakek dan nenek sekarang bisa melihat foto-foto cucu mereka yang berada di seberang benua dalam hitungan detik. Teman yang jauh bisa dengan mudah saling bercakap-cakap. Bahkan kita bisa saling bertukar informasi. Tidak bisa dipungkiri, sosial media sudah menjadi salah satu kebutuhan penting sekarang ini. Tidak ada yang salah untuk bersosial media. Sungguh, jika disikapi dengan bijak sosial media bisa menjadi hal yang positif. Tetapi pernahkan Anda melihat pasangan yang duduk bersebelahan tetapi tidak saling berinteraksi karena masing-masing sibuk bersosial media? Atau pernahkah Anda membaca postingan seorang kenalan di sosial media yang berisi paparan masalah rumah tangganya atau malah keluhan mengenai pasangannya? Dua contoh kasus di atas adalah beberapa dari kasus yang muncul ketika sosial media sudah mengambil lebih banyak hidup kita dibandingkan hal lainnya termasuk keluarga. Suami saya pernah menasihati saya bahwa membuat sebuah postingan di sosial media itu ibarat berbicara di depan banyak orang, sebanyak teman yang kita miliki di akun kita. Jadi ketika kita menuliskan masalah rumah tangga atau hal buruk tentang pasangan kita di media sosial, itu ibaratnya seperti mengumbar masalah kita kepada sebanyak orang yang berteman dengan kita di sosial media tersebut. Hasilnya alih-alih masalah kita selesai, yang ada mereka yang tidak berkepentingan jadi tahu. Bagus kalau merespon dengan dengan positif, bagaimana jika masalah kita justru malah jadi gunjingan. Bijaksanalah dengan sosial media. Tidak semua hal perlu diumbar. Bijaksanalah menggunakan waktu dalam bersosial media. Jangan sampai sosial media merenggut hal-hal berharga yang bisa kita miliki dengan mereka yang kita sayangi. Jangan ragu-ragu untuk mematikan gadget kita ketika kita memiliki waktu bersama keluarga kita. Sosial media juga bisa menjadi perangkap yang mematikan bagi kesetian kita. Banyak kasus perselingkuhan yang dimulai dari hanya sekedar bertukar sapa di sosial media. Percakapan yang biasa bisa berkembang menjadi serius. Lalu tanpa sadar kita mulai membandingkan sosok yang kita temui di dunia maya itu dengan pasangan kita. Bagaimana si pria lain di sosial media lebih perhatian, atau si wanita lain di sosial media lebih bisa menyenangkan hati dengan kata-kata manis. Sadarlah, segala hal yang didapat di dunia maya berbeda dengan dunia nyata.

  • Advertisement
  • Beberapa hal di atas hanyalah sedikit dari banyak hal yang bisa menjadi pihak ketiga dalam pernikahan kita. Masih banyak hal lain yang mungkin pada dasarnya hal baik tetapi karena tidak diterapkan dengan bijaksana bisa menjadi hal yang merusak sesuatu yang sangat berharga yaitu pernikahan kita. Saya selalu mengingat nasihat yang pernah diberikan kepada saya. Pernikahan akan berhasil, sesulit apa pun keadaan yang dihadapi, jika melibatkan 3 pihak untuk bekerja sama yaitu suami, istri dan Tuhan. Saya meyakini itu. Jika digambarkan hubungan itu seperti segitiga. Suami di satu sudut, istri di sudut yang lain, dan Tuhan di sudut atas. Semakin dekat hubungan dengan Tuhan, semakin dekat pula hubungan antara suami dan istri. Alih-alih menjadikan hal-hal lain menjadi pihak ketiga, kenapa tidak menjadikan Tuhan pihak ketiga dalam pernikahan dan keluarga kita?

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

It is my sincere desire and hope that my writing will positively influence readers, and help them be better and happier.

Si Pihak Ketiga dalam Pernikahan

Jika tidak berhati-hati hal yang baik sekalipun berpotensi menjadi pihak ketiga dalam pernikahan kita. Hal-hal sederhana yang disikapi dengan tidak bijaksana bisa menjadi berbahaya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr