Diskriminasi dalam Keluarga

Makin tak jelasnya batas dunia pernikahan campuran makin tak dapat dihindari. Dengan demikian, maka masuklah orang asing ke dalam keluarga kita yang kadang-kadang dapat menimbulkan masalah kalau tidak dipahami.

2,525 views   |   2 shares
  • Sastra karangan Abdoel Moeis yang berjudul "Salah Asuhan" terbitan Balai Pustaka tahun 1928 adalah buku wajib baca sewaktu saya masih duduk di SMP. Di dalamnya dikisahkan pernikahan campuran antara Hanafi yang asli pribumi dan Corrie yang asli Belanda. Kisah mereka menjadi makin rumit karena ibu Hanafi tidak memahami gaya hidup anaknya dan Corrie menikahi Hanafi karena kasihan. Di zaman itu pernikahan campuran masih tidak dapat diterima oleh masyarakat kedua belah pihak. Pihak Indonesia menganggap Hanafi telah menjadi sombong karena gaya hidupnya yang kebarat-baratan, dan pihak Belanda tidak dapat menerima warga negara Belanda yang berkulit sawo matang.

  • Itu adalah novel fiksi bertendensi yang dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya dan bahasa dalam sebuah keluarga campuran. Masih adakah masalah yang serupa dalam pernikahan campuran di zaman sekarang?

  • Betapa pun modern suatu budaya, kita selalu mencurigai perbedaan. Perbedaan bisa terjadi karena saling mencurigai atau bahasa yang berbeda. Kadang-kadang ketidakmampuan seseorang mengutarakan sesuatu dalam bahasa asing, membuat orang asing tersebut menganggapnya bodoh atau paling sedikit 'tidak serius'. Ditambah lagi, bukankah kita selalu menasihati anak kita, "Jauhi orang asing" atau "Jangan berbicara dengan orang yang tidak dikenal"?

  • Ketika dunia kita semakin tidak memiliki batas yang jelas, maka pernikahan macam Hanafi dan Corrie akan makin banyak. Presiden Amerika ke-44 yang sekarang ini adalah hasil pernikahan campuran antara warga Kenya dan Amerika. Beliau sendiri mengakui bahwa keluarganya seperti PBB (Keeping Hope Alive: Barack Obama Puts Family First, the Oprah Winfrey Show Product. 18 Oktober 2006 seperti yang dikutip dalam [http://en.wikipedia.org/wiki/Barack](http://en.wikipedia.org/wiki/Barack)Obama#Familyandpersonal_life).

  • Mungkin suatu hari kelak, atau bahkan sudah sedang berlangsung sebuah atau beberapa keluarga PBB tersebut ada di rumah kita. Anak-anak kita mungkin kuliah di luar negeri, atau orang tua bekerja di luar negeri sehingga anak-anak mereka terbuka pada pergaulan dan budaya serta bahasa asing.

  • Bila anak kita menikah dengan orang asing (saya masukkan suku di dalamnya, seperti pernikahan antara suku Madura dan Dayak Kalimantan, misalnya), kadang-kadang orang tua bisa bereaksi seperti Capulet, ayah Juliet dan Montague, ayah Romeo dalam kisah drama Romeo dan Juliet karya pujangga terkenal William Shakespeare, ketika anak mereka saling jatuh cinta. Di pikiran kedua orang tua tersebut ada kebencian, kecurigaan dan saling memandang rendah pihak lain.

  • Advertisement
  • Sebaliknya, mungkin saja anak atau menantu merasa terganggu oleh orang tuanya atau mertuanya seperti dalam kisah "Salah Asuhan". Hanafi merasa terganggu oleh ibunya yang dianggapnya masih 'kolot'.

  • Kalau itu yang terjadi, maka tak terhindarkan terbentuknya skenario diskriminasi dalam keluarga.

  • Di dalam kedua kisah fiksi tersebut tokoh-tokohnya 'dimatikan' sebagai solusi tragis. Romeo dan Juliet mati bunuh diri. Hanafi pun bunuh diri karena Corrie meninggal karena penyakit kolera. Orang lalu berpikir bahwa diskriminasi harus diberantas. Mungkinkah?

  • Diskriminasi tidak mungkin diberantas sejauh perbedaan warna kulit, budaya, ekonomi, pendidikan dan sosial masih ada.

  • Bangsa asing yang masuk ke dalam keluarga kita, atau kita yang masuk ke dalam keluarga anak kita yang menikah dengan orang asing, pasti membawa latar belakang budaya, ekonomi, sosial dan pendidikan sendiri.

  • Tanpa komitmen yang kuat pernikahan antar dua orang dengan latar belakang yang berbeda, apalagi disertai budaya dan bahasa yang berbeda, adalah suatu skenario kehancuran.

  • Perlu diakui bahwa isu rasial masih ada di mana-mana di dunia ini, dan tidak dapat dihapuskan sejauh perbedaan dalam bentuk lahiriah, kultur, kebiasaan, bahasa, dan warna kulit dipakai sebagai alasan untuk membentuk stereotip. Isu rasial ini akan tetap ada seperti kemiskinan akan tetap ada di dunia ini.

  • Kemajemukan lahiriah ini menimbulkan kemajemukan kemampuan yang tidak dapat dielakkan. Untuk bangsa yang kulitnya berwarna gelap, tentu lebih tahan di bawah teriknya matahari daripada mereka yang berkulit lebih terang. Dari kemajemukan alam juga melahirkan kemajemukan budaya. Bagi penduduk yang tinggal di pegunungan atau dataran tinggi dan bergunung-gunung tentu lebih cenderung untuk hidup dari berburu daripada mereka yang hidup di dataran rendah yang datar yang pilihan alaminya adalah bertani. Dari budaya-budaya ini lahirlah manusia-manusia hebat yang buah pekerjaannya dan pikirannya menjadi landasan peradaban dunia. Betapa pun hebatnya, mereka tidak dapat mengatakan diri mereka sebagai bangsa tuan (master race), karena orang-orang hebat itu bisa saja lahir dalam masyarakat mana pun. Tidak hanya ada satu bangsa yang telah membangun peradaban dunia menjadi seperti sekarang ini. Sebaliknya peradaban ini adalah produk dari bangsa-bangsa dari banyak negera. Alam tidak kenal satu bangsa tuan (John A. Widtsoe, Evidences and Reconciliations, hal. 370-1).

  • Bila ada menantu yang orang asing menolak mertua mengunjunginya, maka tidak perlu terjadi 'perang saudara'. Sama seperti sebuah gencatan senjata, harus ada mediator yang dapat mempertemukan kedua belah pihak yang saling mencurigai atau merendahkan, sehingga ada titik temu. Itu namanya kompromi, saling memberi dan menerima, atau ada yang diminta juga ada yang dikorbankan.

  • Advertisement
  • Dalam hal semacam itu yang menjadi mediator terbaik adalah anak sendiri yang menjembatani kesenjangan tersebut dan membuka komunikasi antara kedua belah pihak. Mungkin menantu merasa memiliki budaya lebih tinggi berdasarkan negara asalnya yang memiliki budaya lebih maju sehingga menganggap mertua masih 'kolot', dan sebagainya.

  • Kedua belah pihak harus menyadari bahwa tidak ada warga tuan dalam keluarga. Demikian pula bila mertua memandang rendah menantunya karena alasan latar belakang budaya, pendidikan dan lain-lain, maka pihak pasangan hidup atau orang yang diteladani, misalnya orang yang dituakan atau temannya, dapat membantu menjembatani komunikasi sehingga terjadi saling memahami kedua belah pihak. Dengan demikian tidak perlu adanya tragedi seperti pada kisah Romeo dan Juliet atau Salah Asuhan.

  • Saya akan meminjam definisi Max Lerner tentang tragedi. Dia mengatakan: "Jangan menggunakan kata –Tragedi — untuk itu. Tragedi terlalu agung dan mulia untuk hal ini. Tragedi adalah bagian dari konstitusi dunia. Setiap orang memiliki pengalaman tragis. Setiap orang akan bertemu dengan tragedi. Tidak ada satu orang pun yang dapat menghindarinya. Tidak satu pun yang kebal terhadap tragedi. Tragedi adalah bagian dari konstitusi kehidupan. Beberapa dari kita dihancurkan oleh tragedi, yang lain hanyut karenanya; tetapi kita semua harus menemuinya. Namun demikian, ada bedanya antara tragedi dan kesedihan/kepiluan. Tragis adalah bagian dari konstitusi dunia; kepiluan adalah buatan manusia. Diskriminasi [yang berkembang menjadi 'perang saudara']... bukan tragedi, ia adalah kepiluan ... ia adalah buatan manusia, dan oleh karena buatan manusia, maka ia dapat diselesaikan oleh manusia" (BYU Speeches, Januari 13, 1966, hal. 6).

  • Pernikahan campuran tidak dapat dihindari, masuknya orang asing ke dalam keluarga kita tidak dapat dihindari. Sebelum mencapai titik temu, maka akan ada saling mencurigai, saling merendahkan, dan jurang perpecahan semakin lebar. Diskriminasi rasial, budaya, sosial serta ekonomi masih akan ada, jadi yang harus dipelajari adalah seni hidup damai dalam perbedaan.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Diskriminasi dalam Keluarga

Makin tak jelasnya batas dunia pernikahan campuran makin tak dapat dihindari. Dengan demikian, maka masuklah orang asing ke dalam keluarga kita yang kadang-kadang dapat menimbulkan masalah kalau tidak dipahami.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr