Mengatasi Pasangan Hidup yang Pemarah

Bila kita mempunyai pasangan hidup yang pemarah kita harus memahami cara mengatasinya dan cara menyelamatkan diri kita dan anak-anak kita.

63,996 views   |   108 shares
  • Mempunyai rekan hidup yang pemarah adalah beban berat. Pasangan Anda mungkin mengalami tekanan batin, depresi, atau tidak memiliki kemampuan untuk menyatakan perasaannya secara sehat. Di bawah ini ada beberapa petunjuk untuk mengatasi pasangan yang pemarah:

  • 1. Keselamatan

  • Bila Anda, pasangan Anda atau anak-anak Anda berada dalam bahaya karena pasangan Anda yang pemarah, segeralah mencari bantuan. Dalam keadaan darurat teleponlah polisi. Jika tidak darurat carilah perlindungan dari badan sosial, keluarga atau teman baik yang dapat melindungi Anda. Meminta bantuan dari penasihat perkawinan juga dapat membantu untuk mengubah sifat pemarah pasangan Anda, menanggulangi masalah perkawinan, atau menolong anak-anak yang orang tuanya pemarah. Kemarahan sering merupakan cetusan dari depresi, ahli psikologi dapat membantu mengatasi kedua masalah ini.

  • 2. Bekerja sama

  • Sering kali kemarahan merupakan akibat dari merasa diperlakukan kurang adil, rasa kurang hormat, atau beban yang berlebihan. Karena itu untuk mengatasinya kita perlu berhati-hati agar selalu adil, menaruh hormat dan banyak membantu.

  • 3. Menjaga rasa aman secara emosi

  • Kadang-kadang amarah diakibatkan oleh perasaan yang luka atau terancam. Ucapkan kata-kata yang lemah lembut, jangan mengecam, bersikap tulus, jangan mengejek, dan dengarkan ucapannya dengan saksama, semua ini akan membantu pasangan Anda merasa aman secara emosi.

  • 4. Perhatian

  • Sering kali kemarahan memuncak karena seseorang merasa tidak didengarkan, tidak diperhatikan, atau dihargai. Dengan mengulang ucapannya, komunikasi yang langsung, dan menegaskan apa yang diucapkannya membuat pasangan kita merasa dimengerti.

  • 5. Kubur senjata

  • Kita semua tahu kelemahan pasangan kita dan hal itu dapat kita pakai sebagai senjata yang menyakitkan. Khususnya bila pasangan kita sedang marah, kita mungkin ingin membela diri atau menganggap pantas untuk menyerang dengan kata-kata kita. Ini seperti menyiram api dengan bensin, lebih baik kita diam.

  • 6. Ubah kebiasaan kita

  • Seperti kebiasaan lain yang terbentuk, mungkin saja kita membentuk kebiasaan dalam berkomunikasi dan dalam memberi tanggapan. Mengubah kecepatan atau nada dari tanggapan kita, hal-hal yang kita ucapkan, dan gaya komunikasi kita dapat meniadakan kebiasaan buruk dan membentuk kebiasaan baru yang lebih sehat bagi hubungan kita.

  • 7. Jadilah rekan yang baik

  • Pasangan kita adalah teman dan rekan kita yang setara. Jangan menggurui, meremehkan, atau merengek. Pikullah tanggung jawab bersama, nikmati kegiatan yang sehat, dan berlakulah lemah lembut. Tertawalah bersama, banyak senyum, bergembiralah dan berkomunikasilah.

  • Advertisement
  • 8. Berilah jarak, tapi jangan menjauh

  • Sebagai pasangan, kita memiliki hubungan utama dengan pasangan hidup kita. Percakapan intim, keluhan, belajar dari pengalaman hidup, semua itu kita kerjakan bersama rekan hidup kita dan bukan dengan orang lain. Pada saat yang sama, menikmati suasana tenang seorang diri juga perlu untuk mengaji, merenung dan mengembangkan diri kita. Menurut Kahlil Gibran, "Biarkan ada jarak di antara kebersamaan kita...Berdirilah berdua, namun jangan terlalu dekat, karena pilar bait suci juga berdiri terpisah."

  • 9. Jadilah aktif

  • Salah satu kegiatan yang paling baik bagi kesehatan mental adalah berjalan kaki setiap hari. Berjalan kaki berdua sebelum atau sesudah makan malam merupakan cara untuk berkomunikasi dan mendengarkan satu sama lain. Cuaca nyaman, udara segar dan pemandangan yang asri akan meningkatkan suasana hati kita.

  • 10. Pertahankan jati diri

  • Mempunyai rekan hidup yang pemarah bukan berarti kita juga harus menjadi pemarah. Mengetahui bahwa rekan hidup kita mudah marah tidak berarti kita boleh memicu kemarahan itu, namun juga tidak berarti bahwa kita harus terlalu berhati-hati. Setiap akibat dari perilaku yang penuh amarah harus dipikul orang yang marah, bukan tugas kita untuk menanggung akibat itu. Namun juga bukan berarti kita berhak menghukum pasangan kita dengan menahan perasaan sayang atau perhatian kita sampai pasangan kita merasa cukup terhukum. Kita bukan hakim yang menentukan ganjaran bagi sifat pemarah pasangan kita, namun kita juga tidak perlu menanggung ganjaran itu sendiri.

  • Dengan saling menjaga dan belajar menyatakan emosi secara sehat dapat mengurangi sifat pemarah pasangan Anda.

  • Diterjemahkan dan Diadaptasi oleh Irma Shalimar dari artikel asli "Loving Safely: How to Cope With An Angry Spouse" karya Emily Christensen.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Mengatasi Pasangan Hidup yang Pemarah

Bila kita mempunyai pasangan hidup yang pemarah kita harus memahami cara mengatasinya dan cara menyelamatkan diri kita dan anak-anak kita.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr