Hentikan Segera Kekerasan dalam Rumah Tangga

Alih-alih melakukan kekerasan fisik, bukankah jauh lebih baik bila para pria dapat melakukan perbuatan baik dan melindungi orang lain, khususnya para wanita, membuat mereka selalu merasa nyaman bila berada dekat di sekitar kita.

2,329 views   |   shares
  • Berikut ini adalah kisah yang dialami oleh salah seorang teman saya beberapa tahun yang lalu, sebut saja namanya Dewi. Suatu hari, sepulang kerja Dewi dan saya pergi ke tempat pusat oleh-oleh, karena dia berencana memberikan kejutan untuk ibunya yang hari itu sedang berulang tahun. Dengan semangat dan sebagai sahabat baiknya, saya mengantarnya berkeliling kota untuk mencari oleh-oleh yang dia inginkan bagi ibunya. Setelah mendapatkan yang cocok, kami langsung pulang menuju ke rumah Dewi. Sesampainya di rumah, hal yang di luar dugaan kami nampaknya baru saja terjadi di rumah tersebut. Pot-pot tanaman di luar rumah Dewi nampak berserakan. Merasakan ada hal yang tidak beres, Dewi segera bergegas masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya dia, mendapati ibunya sedang duduk di ruang tamu sambil menangis, kelopak matanya sembab dan membiru nampak sekali ada bekas sebuah pukulan. Tak ada banyak yang bisa saya lakukan waktu itu, hingga larut malam saya berada di rumah Dewi, menemaninya dan mencoba sesekali berusaha menguatkan hati ibunya.

  • Selang setahun setelah kejadian itu, saya dan Dewi tidak lagi dekat karena saya harus dipindahkan oleh perusahaan di mana saya bekerja ke luar kota. Akhirnya, setelah sekitar 4 tahun saya ditempatkan di tempat yang baru di luar kota, saya diminta kembali oleh perusahaan. Saya akhirnya dapat bertemu dan bekerja sama lagi dengan Dewi. Dewi sekarang ternyata telah diangkat oleh perusahaan menjadi pimpinan bagian personalia, saya mengucapkan selamat padanya atas prestasi yang telah dicapainya. Namun, setelah beberapa hari bekerja di tempat kerja saya yang dulu, saya sering mendengar keluhan dari beberapa rekan kerja saya, khususnya para pria, bahwa Dewi dikenal sangat tidak bersahabat kepada mereka, tak ada seorang pun para pekerja pria yang menyukai karakter Dewi, mengganggap Dewi arogan dan lupa daratan setelah diangkat menjadi pimpinan oleh perusahaan.

  • Penasaran dengan cerita yang beredar di tengah-tengah rekan kerja kami tersebut, saya memutuskan untuk menanyakan sendiri kepada Dewi. Karena saya dan Dewi tetap bersahabat dengan baik hingga sekarang, saya tidak terlalu mendapatkan kesulitan mendekatinya. Nampaknya dari sekian banyak rekan kerja pria kami di perusahaan tersebut, hanya saya sajalah yang bisa disambut dengan hanggat oleh Dewi. Pada jam istirahat, saya mengajaknya keluar untuk makan siang, saya berjanji akan mentraktirnya waktu itu, dengan semangat dia pun mengiyakan ajakan saya. Untuk mengawalinya saya memuji keberhasilannya karena bisa menjadi kepala personalia saat ini. Saya kemudian menanyakan bagaimana kabar ibunya. Dewi diam sejenak, kemudian dia menjawab bahwa ibunya telah bercerai dari ayahnya 2 tahun setelah kejadian pemukulan malam itu. Kemudian dengan sedikit gerogi, saya beranikan diri untuk memberitahu dia situasi serta desas-desus yang sedang beredar di antara karyawan, khususnya para pekerja pria.

  • Advertisement
  • Setelah beberapa saat menjelaskan kepada Dewi mengenai situasi yang sedang dirasakan oleh para pekerja pria, ternyata Dewi selama ini telah menyadari hal tersebut. Dewi menceritakan kepada saya secara terus terang, mengapa dia bisa berubah menjadi seperti sekarang, dia tidak lagi percaya kepada kaum pria, bahkan dia sendiri bertekad untuk tidak akan menikah hingga tua nanti. Di luar dugaan saya, bahwa betapa berdampak kejadian pemukulan ibunda Dewi yang dilakukan oleh ayahnya, terhadap cara pandang Dewi kepada kaum pria saat ini.

  • Dari cerita yang dialami oleh rekan kerja saya tersebut dapat menjadi pengalaman pribadi bagi saya, bahwa pengalaman traumatis yang pernah dialami oleh seseorang dapat berdampak buruk bagi dirinya, merubah cara pandangnya akan sesuatu, menjadikannya antipati dan berpikir negatif akan sesuatu.

  • Sebagai seorang pria, saya melihat kejadian yang dialami oleh Dewi, tak lepas dari kesalahan ayahnya yang melakukan tindakan kekerasan kepada ibunya waktu itu. Belajar dari pengalaman yang dialami oleh Dewi, saya bertekad dalam hati untuk tidak menjadi seorang pria yang temperamental dan gemar melakukan perundungan kepada orang lain yang lebih lemah. Kasus yang dialami Dewi rekan saya tersebut, hanyalah fenomena gunung es, saya yakin masih ada banyak kasus lain di luar sana yang terjadi dialami oleh orang lain yang mungkin jauh lebih parah daripada yang pernah Dewi alami.

  • Melalui tulisan saya ini, saya mengajak serta menghimbau kepada seluruh kaum pria di mana pun berada, janganlah melakukan kekerasan kepada kaum wanita khususnya, entah itu kepada orang lain, ibu Anda, istri Anda, anak perempuan Anda atau saudari Anda. Kita tidak akan pernah tahu dampak serta pengalaman traumatis yang dirasakan oleh seseorang bila kita melakukan perundungan kepada mereka. Alih-alih melakukan kekerasan fisik, bukankah jauh lebih baik bila para pria dapat melakukan perbuatan baik dan melindungi orang lain, khususnya para wanita, membuat mereka selalu merasa nyaman bila berada dekat di sekitar kita.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Saya seorang guide paruh waktu di Bali, anak kedua dari 5 bersaudara. Saya sangat menyukai alam dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara.

Hentikan Segera Kekerasan dalam Rumah Tangga

Alih-alih melakukan kekerasan fisik, bukankah jauh lebih baik bila para pria dapat melakukan perbuatan baik dan melindungi orang lain, khususnya para wanita, membuat mereka selalu merasa nyaman bila berada dekat di sekitar kita.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr