Singkirkan Perasaan Bersalah Ibu

Terlalu banyak wejangan dan ingin sempurna serta butuh pengakuan orang lain hanya membuat ibu merasa bersalah dan tertekan.

1,432 views   |   1 shares
  • Dengan beberapa ketikan dan klik pada keyboard and mouse komputer, seorang ibu dapat segera terhubung dengan ratusan – atau mungkin ribuan – artikel tentang kebiasaan mengasuh anak dengan baik yang mungkin sedikit nilainya. Artikel yang berjudul – walaupun mungkin ditulis dengan niat baik – dapat membuat seseorang yang baru menjadi ibu meragukan ikatannya dengan bayinya, daripada menikmati bulan-bulan pertama mereka bersama. ditulis untuk mendorong para ibu mematikan teknologi dan memasuki kehidupan anak-anak. Dengan demikian, banyak yang merasa bahwa mereka akan dituduh sebagai orang tua yang lalai jika mereka melakukan permainan pada iPhone mereka selagi anak-anak mereka bermain di taman.

  • Seolah dunia maya belum cukup membuat para ibu gelisah, kami sudah menghadapi wejangan dan opini yang tak diundang di sekitar kami: seperti seorang tak dikenal yang merasa terganggu karena anak kami berkemih, ibu mertua Anda memberi nasihat cuma-cuma tentang perilaku anak lelaki Anda dan seorang kenalan Anda merasa terperanjat karena anak perempuan Anda masih belum belajar ke kamar kecil sendiri. Opini mereka sangat keras, perspektif mereka bermacam-macam dan perasaan tertekan serta bersalah dapat melumpuhkan emosi kami.

  • Adakah sesuatu yang aneh bagi para ibu kalau merasa kewalahan dan sulit setiap hari? Kita tidak hanya heran tentang apa yang terbaik buat anak-anak kita tetapi juga merasa apakah kemampuan para ibu yang kurang. Beberapa kecemasan dan kekawatiran karena berharap anak-anak kita menjadi orang yang bahagia dan dapat menyesuaikan diri adalah sama sekali normal – bahkan sehat. Rasa cemas yang dalam untuk kesejahteraan anak mungkin merupakan pertanda yang baik bahwa Anda adalah ibu yang baik.

  • Saya terlalu sering melihat para ibu yang memiliki itikad baik dan kerja keras menjadi terbelenggu oleh kesalahan-kesalahan mereka. Mereka tertimbun oleh kekurangan dan kelemahan sesaat mereka dan lambat laun mereka akan termakan oleh perasaan gagal dan benci. Bagaimana saya mengetahui semuanya itu? Saya adalah salah satu di antara mereka.

  • Sebenarnya sama seperti kebanyakan ibu, saya biasanya ikut memerangi kesalahan ibu setiap hari. Entah mengapa, ketika malam tiba, pikiran saya memainkan peristiwa hari itu kembali dengan kejam, dan berat sebelah. Saya tidak ingat saat-saat memeluknya dan menghiburnya, saat ketika saya menahan diri atau ketika saya memaksa diri tetap senyum kepada anak saya walaupun tubuh saya memberontak minta istirahat. Tidak. Karena film mental saya memperlihatkan saya yang sedang marah-marah sebelum saya mengantar anak lelaki saya ke sekolah, membiarkannya menonton TV terlalu banyak dan kemunafikan saya ketika saya mempersiapkan apel untuk anak saya sedangkan saya memakan permen. Syukurlah, baru-baru ini saya mendapatkan pencerahan. Saya berpikir sendiri, “Bagaimanakah pikiran negatif ini akan membantu? Apa yang dapat dicapai melalui kritik yang terus menerus? Jika saya melihat teman baik saya menghukum dirinya karena mengalami kesulitan mengatur anaknya, apakah yang akan saya katakan kepadanya?” Mungkin saya katakan seperti ini:

  • Advertisement
  • Anda masih manusia

  • Anda membuat kesalahan. Sebenarnya Anda akan melakukan kesalahan terus menerus. Dan sebelum Anda mencaci maki diri karena marah-marah di waktu makan malam, tanyakan kepada diri sendiri apakah saya kurang tidur, masalah dengan hormon atau hanya karena mengalami hari buruk? Para ibu yang tidak memiliki hari libur dan cuti sakit biasanya mendapatkan kesempatan pergi belanja tanpa membawa anak-anak. Bersantailah dan ingatlah bahwa Anda akan bersemangat kembali keesokan harinya.

  • Berhenti membanding-bandingkan sebelum terlanjur

  • Memangnya kenapa kalau tetangga Anda baru mengirim pesan lewat bahwa anak 18 bulannya sudah bisa ke kamar kecil sendiri dan dapat menghafalkan ABC? Membandingkan diri Anda dengan suatu gambaran kehidupan sempurna ibu lain adalah resep kesengsaraan dan sakit hati. Berhati-hatilah dengan situs jejaring sosial. Terlalu mudah membandingkan hari-hari buruk Anda dengan gambaran manis dan status yang menarik ibu lain. Tetapi di belakang yang terlihat di layar komputer, kebanyakan kita – sementara menghadapi berbagai tantangan – sedang merasakan perasaan tidak aman yang sama dan juga kesulitan mempelajari seni menjadi ibu. Kita semua lebih mirip satu sama lain daripada berbeda.

  • Rayakan keberhasilan Anda – tidak peduli seberapa kecilnya

  • Anda berhasil membuat kue kesayangan anak lelaki Anda, mencium bagian tubuh anak Anda yang sakit karena habis jatuh misalnya, dan mengatakan ‘aku sayang kamu.’ Kemungkinan besar saat-saat seperti itulah yang akan dikenang oleh anak-anak Anda, jadi mengapa tidak merayakannya?

  • Masalah mengasuh ini adalah sesuatu yang sulit. Jika Anda menjumpai kesulitan sesaat untuk bisa menikmatinya, cobalah mengingat hal-hal baik yang Anda pernah lakukan dan singkirkan perasaan bersalah. Kita semua sedang melakukan sesuatu yang masih berkelanjutan. Kemungkinannya adalah Anda sedang melakukan sesuatu yang lebih baik daripada yang Anda kira.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Effian Kadarusman dari artikel asli “Kicking mommy guilt to the curb” karya Debbie Sibert.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Debbie Sibert, lulusan jurnalistik dari Utah Valley University. Ibu dari tiga anak yang hingga sekarang masih aktif menulis di blog seputar pengasuhan dan pengalamannya sebagai seorang ibu. Anda bisa menghubunginya di debbiesibert@gmail.com

Singkirkan Perasaan Bersalah Ibu

Terlalu banyak wejangan dan ingin sempurna serta butuh pengakuan orang lain hanya membuat ibu merasa bersalah dan tertekan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr