Melangkahkan Kaki Menghadapi Hal Baru

Mengawali hal baru selalu memberikan kecemasan dan ketakutan tersendiri, namun apabila kita tahu cara mengatasinya kita tidak perlu kuatir dan menjadi lebih mudah menanganinya untuk langkah langkah berikutnya

2,058 views   |   3 shares
  • Ani, usia lima tahun, akan masuk Taman Kanak-Kanak di tahun ajaran ini. Setiap malam dia bermimpi buruk dan diakhiri dengan tangisan. Ibunya menghibur dan memeluknya dengan kata-kata lembut menenangkan dia. Namun semakin dekat hari masuk TK semakin sering dia bermimpi buruk.

  • Peristiwa semacam lainnya bisa terjadi dalam hidup kita seperti saat kita mengawali pekerjaan baru, pindah rumah, pindah sekolah, dll. Ini semua dan lainnya merupakan tantangan baru dengan kecemasan dan ketakutan yang berbeda antara satu orang dan yang lainnya. Ada yang serius, ada yang bertingkat sedang, namun semuanya akan mengalami ketegangan atau kepanikan tersendiri.

  • Bagaimana kita mengatasinya? Sama seperti Ani kecil, ibunya berusaha membujuk dan memberikan pandangan manis mengenai guru yang baik, teman-teman bermain yang menyenangkan, permainan yang menarik yang akan dialami sewaktu dia berada di kelas. Di hari pertama ibunya mungkin menyertainya, mengenalkan gurunya, menunjukkan tempat duduknya, membawanya ke tempat bermain dengan segala alat permainan yang menarik yang ada di sana, membuatnya sedemikian indah sehingga Ani merasa gembira dan lupa akan kecemasannya. Anak-anak, remaja, pria, wanita, tua maupun muda perlu melatih diri setiap kali menghadapi perubahan hidup. Tentu saja semakin dewasa semakin kita tidak membutuhkan pertolongan ibu kita untuk menenangkan kita sewaktu menghadapi perubahan atau mengawali langkah pertama ini, namun sadarilah bahwa kita memiliki ibu-ibu maya yang kita bentuk di dalam benak dan persiapan kita.

  • 'Ibu-ibu' ini bisa saja berupa:

  • Pemikiran atau sugesti diri

  • seperti, "Saya akan bertemu dengan orang/teman yang menyenangkan, kantor yang menghadap taman yang indah, majikan yang mau mendengarkan, ini hal baru dan menarik yang perlu dipelajari."

  • Beberapa puluh tahun yang lampau saya bekerja di satu klinik di bagian pemasaran. Saya bekerja bersama empat orang pegawai dengan jabatan yang sama. Saya belum pernah bekerja di kantor pemasaran apalagi perusahaan yang bertingkat internasional. Saya orang baru sementara yang lainnya adalah orang lama yang sudah bekerja paling tidak dua, tiga tahun lebih dulu dan sudah memiliki pengalaman. Majikan saya mengatakan bahwa yang perlu saya pelajari adalah bagaimana cara memperkenalkan produk kesehatan kepada orang-orang yang berbahasa asing dan salah satu nasihat yang beliau berikan adalah cara menangani orang-orang yang buta asuransi kesehatan, khususnya dalam bidang keuangan. Majikan saya tidak mengajar saya langsung bertatap muka dengan pelanggan, akibatnya saya menjadi cemas dan takut setiap menantikan pelanggan baru yang datang. Saya selalu berharap agar teman kerja saya yang menyambut pelanggan ini. Memang untuk kali pertama ini saya dapat menghindarinya namun ada saatnya di mana saya harus menghadapinya baik saya mau atau pun tidak mau. Saya belajar mendengarkan apa saja yang dipercakapkan sewaktu pelanggan baru datang dan saya belajar bagaimana taktik menjelaskan asuransi kesehatan yang sangat penting bagi mereka. Sewaktu menghadapi pelanggan pertama, hati saya berdebar-debar, takut salah dan takut tidak mendapatkan pelanggan baru, saya (berusaha seakan-akan) dengan badan tegap dan muka serba tahu dan senyum lebar menyambut pelanggan baru itu. Untungnya pelanggan baru ini orangnya tidak rewel dan tanggap. Saya tidak perlu menjelaskan secara rinci. Saya senang dan percaya diri timbul karena saya dapat menghasilkan sesuatu, yaitu hari itu saya mendapatkan pelanggan baru. "Cogito, ergo sum, atau "saya adalah apa yang saya pikir" René Descartes. adalah ungkapan yang tepat untuk sugesti diri.

  • Advertisement
  • Pikiran positif bahwa akan ada hal baik dan buruk

  • Mempelajari situasi seperti misalnya pindah sekolah: berapa banyak murid di kelas saya, di mana lokasi kelas saya, siapa guru-guru yang akan mengajar, dan siapa guru yang "ahli mengajar" (menyenangkan dan membuat murid antusias mendengarkan) dan siapa guru yang "kejam" dsb. Contohnya: Lebih dari dua puluh tahun yang lalu saya bekerja di sebuah sekolah internasional (SMA) sebagai seorang pembimbing mengurusi siswa yang akan ke universitas. Karena jabatan ini, maka salah satu tugas saya adalah mengurus perpustakaan yang isinya mengenai semua informasi universitas di banyak negara di dunia. Saya melihat perpustakaan ini kecil dan kuno dan semua informasi yang ada di sana sudah kadaluarsa (pengalaman buruk saya). Saya tidak memiliki pengalaman dalam bidang ini dan tidak tahu bagaimana memulainya kecuali membuang semua informasi yang ada dan melihat betapa kosong semua rak bukunya (pengalaman baik yang saya anggap sebagai kesempatan). Tak seorang pun pernah mengerjakan pekerjaan ini sebelumnya. Keesokan harinya pikiran saya lebih tenang dan saya merencanakan untuk menemui majikan saya dan meminta izin untuk memulai proyek baru saya yaitu menulis surat ke semua universitas yang saya tahu alamatnya lebih dahulu dan hal yang kedua adalah apakah ada anggaran untuk membayar perangkonya. Dalam waktu satu tahun saya membangun perpustakaan yang tadinya hanya terdiri dari dua lemari buku dengan 6 lapis rak buku menjadi satu ruangan tersendiri dengan beberapa komputer.

  • Siap akan adanya hal-hal yang tidak diharapkan

  • Sikap "ingin tahu dan mau belajar tanpa bantuan orang lain, bila perlu" seharusnya menjadi bagian dalam hidup kita. Dengan demikian sewaktu dibutuhkan, kita tidak perlu menjadi stres, mundur, patah semangat atau ingin berhenti sebelum mencoba.

  • Contoh berikutnya di tempat pekerjaan yang sama (sekolah internasional). Diploma kelulusan siswa SMA di sekolah ini dicetak dan didatangkan dari Amerika Serikat. Entah mengapa diploma ini tibanya terlambat dan kemungkinan hilang di jalan. Salah seorang sekertaris dari penasihat yang mengurus diploma mencari tahu siapa yang bisa membantunya untuk memperoleh diploma tepat waktu. Saya mendengar masalah ini dan tanpa pengalaman sama sekali saya coba untuk membuat diploma semacam ini dengan segala keterbatasan yang ada. Saya tunjukkan hasilnya kepada mereka dan memberitahu mereka kalau seandainya kita bisa mendapatkan kertas yang tepat maka tidak akan sulit untuk membuatya di Indonesia karena hasilnya sama seperti diploma yang asli dari Amerika. Ketersediaan diploma kelulusan dapat diselamatkan dan semua orang puas karenanya.

  • Advertisement
  • Mengawali sesuatu memang selalu sulit namun bersikaplah tenang, menarik napas panjang bila perlu maka langkah-langkah berikutnya akan semakin mudah.

Baca, hidupkan, bagikan!

Mary Kadarusman is a homemaker and a tutor. Mother of four and thirteen grandchildren. Contact me at: marykadarusman@gmail.com

Melangkahkan Kaki Menghadapi Hal Baru

Mengawali hal baru selalu memberikan kecemasan dan ketakutan tersendiri, namun apabila kita tahu cara mengatasinya kita tidak perlu kuatir dan menjadi lebih mudah menanganinya untuk langkah langkah berikutnya
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr