5 “Kesalahan” Klasik Orang Tua

Menjadi orang tua adalah berkat yang luar biasa. Tetapi tanggung jawab itu tidaklah mudah. Tidak ada sekolah khusus menjadi orang tua, kita hanya harus terus belajar dari pengalaman-pengalaman kita bersama anak-anak kita.

36,184 views   |   86 shares
  • Menjadi orang tua memang bukan hal yang sepele. Dan tidak bisa pula dikatakan sebagai hal yang mudah. Dan untuk menambah kesulitannya, tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua di dunia ini. Lalu bagaimana kita bisa menjadi orang tua yang baik bagi putra putri kita? Tidak ada panduan khusus. Yang paling dasar untuk menjadi orang tua kita harus mengasihi anak-anak kita. Tetapi terkadang tanpa kita sadari, karena rasa kasih itu kita terjebak dalam beberapa "kesalahan" yang jika tidak segera disadari akan berakibat tidak baik ke depannya. Saya bukan pakar dalam hal menjadi orang tua, tapi ijinkan saya membagikan beberapa hal yang saya pelajari dari apa yang saya lihat dan saya alami.

  • Menuruti semua kemauan anak

  • Kesalahan pertama yang sering dilakukan tanpa sengaja oleh para orang tua adalah menuruti semua kemauan anak. Tidak bisa terlalu disalahkan juga, karena hal itu dipicu oleh kasih sayang orang tua tersebut terhadap anaknya. Tetapi hati-hati, tidak semua yang diinginkan anak baik untuk anak tersebut. Kita harus bisa membedakan antara apa yang dibutuhkan dengan apa yang diinginkan si anak. Dan jika seorang anak terbiasa atau dibiasakan mendapat apa yang dia mau, dia akan tumbuh menjadi pribadi yang manja, dan tidak menghargai arti bekerja keras, serta egois.

  • Melakukan semua hal untuk anak

  • Pernahkah anda melihat seorang anak berumur 7 tahun dan masih harus disuapi setiap kali makan? Saya pernah, sering malah. Dan itu membuat saya bertanya-tanya, apakah itu hal yang baik atau justru malah sebaliknya. Tidak ada salahnya kita sebagai orang tua memastikan anak kita mendapatkan semua bantuan yang dia butuhkan, tetapi berhati-hatilah, jangan sampai bantuan kita membuat anak kita menjadi tidak mandiri. Sungguh perlu bagi kita untuk mengajarkan kemandirian kepada anak sedari dini. Bukan berarti kita membuatnya bekerja di luar kemampuannya. Kemandirian membuat anak menjadi pribadi yang tidak selalu tergantung pada orang lain. Itu juga akan membentuknya menjadi pribadi yang kreatif. Hal-hal sederhana seperti belajar untuk makan sendiri, memakai sepatunya sendiri, atau bahkan membereskan mainannya sendiri adalah hal yang bagus untuk diajarkan sebagai permulaan.

  • Membanggakan anak dengan berlebihan

  • Jika tidak hati-hati ini akan menjurus kepada kesombongan yang tanpa kita sadari bisa memberi tekanan berlebihan kepada anak. Tidak ada yang salah dengan rasa bangga terhadap anak kita. Orang tua mana yang tidak senang ketika anaknya berhasil mencapai sesuatu. Tetapi jangan sampai, meminjam istilah teman saya, kita menjadikan anak pajangan di etalase. Banyak dari kita tanpa kita sadari terjebak dalam membanggakan anak bukan karena tulus kita bangga dengan pencapaian mereka, tetapi lebih dikarenakan ego kita yang tidak sudi kalah dengan orang lain. Anak ibu A pandai berenang, anak saya juga harus juara berenang. Ibu B anaknya jago main piano, anak saya harus mahir piano, begitu kira-kira contoh penggambarannya. Hargai dan banggalah dengan tulus untuk setiap hal sederhana yang dicapai anak kita. Bahkan jikalau anak kita tidak mendapatkan pencapaian apa pun, banggalah dengan tulus atas usaha yang telah dia berikan. Pujian yang baik dan tulus sangat baik untuk perkembangan kepercayaan diri si anak. sebaliknya pujian yang berlebihan, yang lebih dikarenakan rasa tidak mau kalah dari orang lain, justru akan membuat anak tertekan.

  • Advertisement
  • Terlalu protektif

  • Adalah tanggung jawab orang tua memastikan keamanan dan kesehatan anak selalu terjaga. Tetapi juga jangan dilupakan, anak-anak kita butuh untuk berkembang dan memiliki keberanian untuk mencoba hal baru. Terkadang karena rasa sayang kita, tanpa sadar kita terlalu berlebihan dalam melindungi anak. bahkan sampai tidak memperbolehkan sama sekali anak untuk bermain di luar rumah. Atau melarang anak untuk mencoba ini dan itu karena takut anak terluka atau sakit. Padahal, pada dasarnya anak-anak sudah memilki kekebalan tubuh alami, dan kekebalan itu akan semakin rapuh jika jarang digunakan. Akibat lainnya, anak kita akan menjadi penakut dan tidak berani mencoba hal baru. Dia akan terbiasa untuk selalu takut karena tanpa sadar ketakutan kita akan keselamatannya mempengaruhi kepriibadiannya. Biarkan anak-anak untuk mencoba hal baru dan berkembang selama itu tidak melampaui batas.

  • Menjadikan "demi anak" sebagai alasan

  • Ini adalah alasan yang sering saya dengar . Bahkan untuk hal yang sebenarnya tidak anak inginkan. Iya, sebagai orang tua, kita harus melakukan apa pun demi anak. Tapi coba pikir lagi dengan lebih bijaksana, benarkah apa yang kita lakukan memang baik untuk si anak. Banyak orang tua yang bekerja tanpa mengenal waktu, hingga tidak punya waktu untuk bercengkerama dan mendengarkan si anak, dan pada ujungnya mengatakan bahwa itu semua demi anak. Benarkah itu yang si anak butuhkan? Tidak ada yang menyangkal bahwa membesarkan anak membutuhkan banyak sekali biaya. Belum lagi untuk biaya pendidikan mereka. Akan tetapi yang jangan sampai hal itu mengambil hal paling berarti yang menjadi hak anda sebagai orang tua, yaitu menemaninya untuk tumbuh, ada bersamanya dalam setiap perkembangannya. Itu adalah hak Anda, dan hak anak Anda juga, selain terpenuhinya semua kebutuhnnya. Saya tidak dibesarkan dari keluarga yang berkelimpahan secara materi. Tetapi saya mengingat setiap saat dalam hidup saya, di mana ayah saya selalu ada untuk saya, sampai sekarang. Baik dalam saat senang, saat pencapaian saya akan sesuatu, maupun saat saya marah dan sedih. Hal lain lagi adalah memaksakan anak untuk menuruti keinginan kita, lagi-lagi dengan alasan demi kebaikan si anak. Bagus kalau keinginan kita yang harus dituruti si anak memang penting dan harus dia lakukan. Akan tetapi akan sangat tidak adil jika itu hanyalah dikarenakan ego kita sebagai orang tua. Seperti memaksakan anak untuk mengikuti suatu kegiatan yang bukan menjadi bakat dia, yang terjadi, alih-alih menjadi mahir, yang ada adalah banyaknya pertengkaran dan pembangkangan, kalaupun si anak akhirnya menurut, itu tidak akan menjadi efektif.

  • Advertisement
  • Sekali lagi, tidak ada yang mengatakan bahwa menjadi orang tua itu mudah. Tetapi percayalah itu adalah berkat luar biasa yang Tuhan percayakan kepada kita. Akan ada banyak saat penuh kebahagiaan, sama banyaknya dengan saat penuh tantangan, yang akan kita dapatkan.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

It is my sincere desire and hope that my writing will positively influence readers, and help them be better and happier.

5 “Kesalahan” Klasik Orang Tua

Menjadi orang tua adalah berkat yang luar biasa. Tetapi tanggung jawab itu tidaklah mudah. Tidak ada sekolah khusus menjadi orang tua, kita hanya harus terus belajar dari pengalaman-pengalaman kita bersama anak-anak kita.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr